Halo teman teman! Ingin tahu bagaimana PPI Den Haag terbentuk? Seperti apa proses panjang yang menghasilkan organisasi ini? Kita akan bahas tuntas kali ini sejarah PPI Den Haag!

Semua dimulai ketika tiga sekawan Arnold, Christian dan Regi memutuskan untuk mendirikan sebuah organisasi mahasiswa pada November 2004. Pada saat itu, sebenarnya sudah ada PPI Kota Den Haag, sehingga ini menunjukkan dualisme. Sayangnya PPI Kota Den Haag pada saat itu kurang aktif dan beberapa upaya telah dilaksanakan untuk menggabungkan kedua PPI, namun belum berhasil. Lalu diadakan sebuah sidang untuk mensahkan PPI Den Haag, dikarenakan banyak manfaatnya. PPI Den Haag telah sukses dalam menjalankan beberapa acara seperti program olahraga dan akomodasi mahasiswa baru. Sidang tersebut dihadiri oleh beberapa PPI Kota lain dan PPI Den Haag akhirnya disahkan oleh Sekjen PPI Belanda Michael Putrawenas.

sejarah ppi den haag

Pada Januari 2005, PPI Den Haag membetuk AD/ART dan probation committee lalu memperkenalkan diri ke KBRI via atase dikbud, bapak Muhadjir. Dibawah kepemimpinan Arnold Lewianto, PPI Den Haag menjadi lebih aktif dengan program kerjanya dan terjadi transisi dari probation committee ke pengurus tetap. Dikarenakan ketua terkena masalah keluarga, kepemimpinan diambil alih oleh wakil ketua, Christian Santoso.

Pada tahun 2006, upaya mediasi dilakukan kembali dibawah kepemimpinan Christian. Bahkan sekjen PPI Belanda dan ketua PPI Leiden ikut memberi dukungan. Sayangnya hasil belum memuaskan, dan PPI Den Haag akhirnya mengalihkan fokus untuk membangun himpunan. Pada tahun 2005, PPI Belanda baru mulai aktif lagi dan PPI Den Haag menjadi salah satu motor utamanya. Berhubung KBRI letaknya di Den Haag, maka sangat mudah untuk memperoleh pertolongan dan dukungan. Ini juga didukung oleh kedekatan Christian (Ketua PPI DH), Michael (Sekjen PPI Belanda, PPI Rotterdam) dan Helena (PPI Leiden) sehingga koordinasi sangat mudah. Maka pada tahun 2006, PPI Den Haag selalu aktif di acara PPI Belanda, sebagai partisipan, pengisi maupun panitia.

sejarah ppi den haag

Di tahun yang sama, PPI Den Haag dan PPI Rotterdam memutuskan untuk membuat kegiatan yang akan dilaksanakan di kurun waktu 2006-2007. Pada saat itu juga, tercetus ide untuk membuat sebuah kegiatan yang mampu merangkum semua kreatifitas anggota PPI di seluruh belanda, dari kegiatan diskusi untuk bangsa sampai kegiatan santai dalam acara pentas seni. Acara ini kemudian dinamakan ‘Educares, Charity for Education’. Acara ini diadakan tahun 2007 dan bertujuan untuk menggalang dana untuk  adik asuh guna membantu siswa siswi SD di daerah terpencil di Indonesia. Disamping itu, Educares bertujuan memperkuat hubungan  antara pelajar Indonesia dan pelajar internasional. Acara ini juga menjadi salah satu media untuk mengasah kreativitas pelajar-pelajar Indonesia di Belanda dan meningkatkan  kepedulian  masyarakat  internasional  terhadap  kebudayaan  dan pariwisata Indonesia.

sejarah ppi den haag

Acara ini dibagi 2 sesi;  sesi pertama  merupakan diskusi kebangsaan serta pembentukan jejaring Eropa, karena peserta yang hadir tidak hanya dari PPI Belanda, tetapi juga dari PPI UK, Jerman, dan beberapa PPI negara eropa lain. Ini juga merupakan bumbu awal pembentukan PPI Eropa yang kemudian akan melahirkan PPI Dunia. Untuk kegiatan ini PPI didukung oleh KBRI dengan penyediaan tempat untuk diskusi dan makan siang. Lalu untuk sesi kedua, diadakan music performance di sore hari. Educares menjadi big hits, karena dari sejarahnya PPI Belanda yang baru berdiri, hanya acara ini yang mampu mengumpulkan segala elemen pelajar di Belanda untuk berkumpul. Sejak saat itu, eksistensi PPI Den Haag semakin kuat sebagai jantungnya PPI Belanda. Ditahun ini juga, Christian maju sebagai Sekjen PPI Belanda. Educares memberikan efek yang dahsyat karena meningkatkan eksistensi PPI Belanda di kancah Eropa dengan berhasilnya mengadakan pertemuan PPI di negara negara Eropa. Ini juga mendorong kesadaran untuk membuat jaringan PPI antar negara sehingga menjadi landasan dasar PPI Dunia dan I-4.

sejarah ppi den haag

Pada tahun 2008, Den Haag kedatangan banyak mahasiswa baru S1 dan S2. Educares masih tetap dijalankan namun pada periode 2008-2009, PPI Den Haag mengalami penurunan dalam kegiatan eksternal. Walaupun ada diskusi diskusi politik, konsep hanya berakhir sebagai pembicaraan dan tidak ada tindakan nyata di Indonesia. Beberapa mahasiswa kecewa dan akhirnya lebih tertarik melakukan kegiatan pribadi. PPI Den Haag bahkan sempat berduka atas meninggalnya Andrew Manullang karena Leukimia. Meskipun begitu, PPI Den Haag selalu siap apabila diminta pertolongan sebagai panitia. PPI Den Haag ikut serta membantu acara Natal KBRI dan juga acara Simposium 100 Tahun PPI.

sejarah ppi den haag

Pada tahun 2009, Reynaldo Rante Allo (S2) berusaha memberikan hidup kembali ke PPI Den Haag. Pada saat itu, masih banyak mahasiswa Indonesia S2 di De Haagse Hogeschool. Reynaldo, selaku mahasiswa S2 menjadi jembatan penghubung antara PPI Kota Den Haag dan PPI Den Haag. Upaya mediasi kembali dilaksanakan untuk menggabungkan kedua PPI. Misalkan, KBRI mengadakan pasar malam dan PPI Kota Den Haag dan PPI Den Haag bekerja bersama untuk mendukung acara ini. Adapun acara diskusi yang dihadiri oleh kedua PPI, dan acara tersebut sempat memberikan kesan yang positif. Namun upaya penggabungan gagal dikarenakan kedua PPI mempunyai dinamika yang berbeda. PPI Kota Den Haag umumnya terdiri dari mahasiswa S2 dan S3 dan banyak yang mendapatkan beasiswa. Sedangkan PPI Den Haag umumnya terdiri dari mahasiswa S1 yang self-financed. Hubungan kedua PPI sebenarnya masih harmonis dan mereka sering bergaul. Ini juga didukung dengan banyaknya mahasiswa S2 Indonesia di De Haagse Hogeschool.

sejarah ppi den haag

Pada tahun 2010, PPI Den Haag sukses menjalankan acara kuliner. Maka PPI Den Haag memutuskan untuk membuat acara tahunan. Pada saat itu, diharapkan menjadi ciri khas Den Haag dan dinamakan Fokustik. Fokustik adalah singkatan dari Fotografi, kuliner dan akustik. Maka ini adalah event perlombaan yang dihadiri oleh mahasiswa Indonesia di seluruh belanda. Fokustik maka menjadi ajang silaturahmi dan tentu ini meningkatkan popularitas PPI Den Haag. Fokustik dijalakan pada tahun 2011 dan meraih kesuksesan besar. . Pada tahun 2012, di bawah kepemimpinan Ivy Londa, PPI Den Haag mengadakan acara internal besar yang disebut Theatre dan Fokustik tidak dijalankan. Acara ini bertujuan untuk mendekatkan anggota PPI Den Haag, terutama yang baru datang. Pada tahun 2013, akhirnya PPI Kota Den Haag sepakat untuk menghentikan upaya unifikasi dan PPI Den Haag juga tampaknya mempunyai pandangan yang sama. Sebenarnya dengan ada dua PPI di Den Haag, itu berarti bahwa Den Haag mempunyai dua suara ketika voting di PPI Belanda dan ini merupakan sebuah advantage.

sejarah ppi den haag

Pada tahun 2013, dibawah kepemimpinan Thomas Mandela Demokrasio Litaay, Fokustik berhasil dihidupkan kembali. Acara tersebut meraih kesuksesan besar dan PPI Den Haag pun menjadi lebih bersinar. Saking hebohnya, sampai di liput oleh detik. Pada tahun 2014, dibawah kepemimpinan Ayesha Nabila, Fokustik digabungkan dengan acara PPI belanda yaitu “Klik” sehingga menjadi Klikustik. Acara ini mempunyai skala yang massive dan meraih kesuksesan besar. PPI Den Haag menjadi lebih terkenal dikalangan PPI Kota lain. Klikustik memperoleh sponsor sponsor besar seperti Pertamina dan Garuda Indonesia. Bahkan dalam acara ini, Klikustik berhasil mengundang bintang tamu dari Indonesia, yaitu Teza Sumendra.

sejarah ppi den haag

Diakhir tahun 2014, PPI Den Haag untuk pertama kalinya mempunyai satu calon ketua untuk pergantian kabinet. Maka terpilihlah Mahesa Ardyaswara Hadis sebagai ketua PPI Den Haag periode 2014-2015. PPI Den Haag juga mengalami penurunan kinerja dan ini ditandai dengan gagalnya Fokustik. SDM di cabinet juga terbatas sehingga menjadi tantangan sendiri. Untuk mengantisipasi masalah ini di masa depan, PPI Den Haag dengan bantuan Martin William, untuk pertama kalinya merumuskan GOAL, suatu LDKM untuk mempersiapkan calon pengurus PPI Den Haag.

sejarah ppi den haag

Akankah PPI Den Haag membuat terobosan baru dimasa yang akan datang? Well, we’ll just have to wait and see!